Makalah Kepemimpinan Ali Bin Abu Thalib by Burhannudin FEKON uniska bjm

Standar

TUGAS MAKALAH

PENDIDIKAN SEJARAH ISLAM

KEPEMIMPINAN KHALIFAH ALI BIN ABU THALIB R.A

 

OLEH :

 BURHANNUDIN

 11.31.0122

UNTUK MEMENUHI TUGAS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DOSEN PEMBIMBING :

Drs. Muhammad  Syafe’i

 

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN (UNISKA) MUHAMMAD ARSYAD

AL-BANJARY BANJARMASIN

TAHUN AKDEMIK 2011-2012

                                                                        BAB I.

 PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Secara resmi istilah Khulafaur Rasyidin merujuk pada empat orang khalifah pertama Islam, namun sebagian ulama menganggap bahwa Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang memperoleh petunjuk tidak terbatas pada keempat orang tersebut di atas, tetapi dapat mencakup pula para khalifah setelahnya yang kehidupannya benar-benar sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi. Salah seorang yang oleh kesepakatan banyak ulama dapat diberi gelar khulafaur rasyidin adalah Umar bin Abdul-Aziz, khalifah Bani Umayyah ke-8

Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah ia wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam

Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung. Namun penganut paham Syi’ah meyakini bahwa Muhammad dengan jelas menunjuk Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad menginginkan keturunannyalah yang akan meneruskan kepemimpinannya atas umat Islam, mereka merujuk kepada salah satu Hadits Ghadir Khum.

Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali menon-aktifkan para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsmankepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.

  1. Tujuan

Adapun tujuan penulis membuat makalah tentang kekhilafahan Ali bin Abi Thalib

antara lain :

 

  1. Mengetahui profil Ali bin Abi Thalib, beberapa keutamaan Ali bin Abi Thalib, kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, memerangi khawarij, syahidnya Ali bin Abi Thalib, serta beberapa perkataan hikmah Ali bin Abi Thalib.
  2. Semoga menambah ilmu pengetahuan dan memberikan banyak manfaat kepada pembaca.

 

BAB II.

ISI

 

  1. 1.      Profil Ali Bin Abu Thalib

Ayahnya adalah: Abu Thalib, paman Nabi saw, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim,
bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin
Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, ‘Uqail, Ja’far dan Ummu
Hani.

Dengan demikian, jelaslah, Ali adalah berdarah Hasyimi dari kedua
ibu-bapaknya. Keluarga Hasyim memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat
Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang
mulia, penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat. Ibunya adalah
Fathimah binti Asad, yang kemudian menamakannya Haidarah. Haidarah adalah salah
satu nama singa, sesuai dengan nama ayahnya: Asad (singa). Fathimah adalah salah
seorang wanita yang terdahulu beriman dengan Risalah Nabi Muhammad Saw. Dia
pula-lah yang telah mendidik Nabi Saw, dan menanggung hidupnya, setelah
meninggalnya bapak-ibu beliau, Abdullah dan Aminah. Beliau kemudian membalas
jasanya, dengan menanggung kehidupan Ali, untuk meringankan beban pamannya, Abu
Thalib, pada saat mengalami kesulitan ekonomi. Saat Fathimah meninggal dunia,
Rasulullah Saw yang mulai mengkafaninya dengan baju qamisnya, meletakkannya
dalam kuburnya, dan menangisinya, sebagai tangisan seorang anak atas ibunya. Dan
bersabda:

“Semoga Allah SWT memberikan balasan yang baik bagi ibu asuhku ini. Engkau
adalah orang yang paling baik kepadaku, setelah pamanku dan almarhumah ibuku.
Dan semoga Allah SWT meridhai-mu.”

Dan karena penghormatan beliau kepadanya, maka beliau menamakan anaknya yang
tersayang dengan namanya: Fathimah. Darinyalah kemudian mengalir nasab beliau
yang mulia, yaitu anak-anaknya: Hasan, Husein, Zainab al Kubra dan Ummu
Kultsum.

Haidarah adalah nama Imam Ali yang dipilihkan oleh ibunya. Namun ayahnya
menamakannya dengan Ali, sehingga dia terkenal dengan dua nama tersebut,
meskipun nama Ali kemudian lebih terkenal.

Anak-anaknya adalah: Hasan, Husein, Zainab, Ummu Kultsum, dari Fathimah binti
Rasulullah Saw. Seorang isteri yang tidak pernah diperlakukan buruk oleh Ali
r.a. selama hidupnya. Bahkan Ali tetap selalu mengingatnya setelah kematiannya.
Ia juga mempunyai beberapa orang anak dari isteri-isterinya yang lain, yang ia
kawini setelah wafatnya Fathimah r.a. Baik isteri dari kalangan wanita merdeka
maupun hamba sahaya. Yaitu: Muhsin, Muhammad al Akbar, Abdullah al Akbar, Abu
Bakar, Abbas, Utsman, Ja’far, Abdullah al Ashgar, Muhammad al Ashghar, Yahya,
Aun, Umar, Muhammad al Awsath, Ummu Hani, Maimunah, Rahmlah ash Shugra, Zainab
ash Shugra, Ummu Kaltsum ash Shugra, Fathimah, Umamah, Khadijah, Ummu al Karam,
Ummu Salmah, Ummu Ja’far, Jumanah, dan Taqiyyah.

.Ali ra. sendiri termasuk salah seorang dari 10 sahabat ra.yang dijamin masuk surga.

  1. 2.      BEBERAPA KEUTAMAAN ‘ALI  RA.

Ali ra. adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Sebagian riwayat mengatakan bahwa saat masuk Islam, beliau ra. baru berumur 10 tahun. Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad bahwa Al-Hassan bin Zaid bin Al-Hassan berkata: Ali tidak pernah menyembah berhala sama sekali karena dia memang masih kecil.Saat hijrah RasuluLlah saw, Ali ra. dengan penuh keberanian, tidur di atas tempat tidur RasuluLlah saw. sehingga para pengepung mengira RasuluLlah saw. masih di dalam rumah, sedang beliau saw. telah meninggalkan rumah tsb.

‘Ali adalah salah satu dari 3 orang sahabat ra. yang melakukan perang tanding satu lawan satu melawan 3 tokoh kafir Quraisy saat Perang Badar. Ali ra. berkata: Utbah bin Rabiah (dari Kafir Quraisy, pen.) maju diikuti putra (Al-Walid, pen.) dan saudaranya (Syaibah, pen.). Ia berseru: ‘Siapa mau bertarung?’ Kemudian ditampilkan kepadanya seorang pemuda Anshar. Ia bertanya:Siapa kamu?Maka mereka mengabarinya.Utbah berkata:Kami tidak membutuhkan
kamu, tetapi kami inginkan putera-putera paman kami.Kemudian RasuluLlah saw.
bersabda:Berdirilah, hai Hamzah!Majulah, hai’Ali! Majulah hai Ubaidah
bin Harits!
Kemudian Hamzah ra. menghadapi ’Utbah (dan berhasil membunuhnya, pen.) dan aku menghadapi Syaibah (dan membunuhnya, pen.). Ubaidah dan Al-Walid saling menyerang. Masing-masing saling melukai lawannya. Kemudian kami menyerang Al-Walid dan membunuhnyagdanhkamijbawa’Ubaidah.(HR.AbuhDaud)
Abu Dzar ra. bersumpah, kalau ayat:

“Inilah dua golongan
(golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar
mengenai Tuhan mereka…“
(Q. S. Al-Hajj : 19)

Turun mengenai orang-orang yang bertarung dalam Perang Badar; Hamzah, Ali, Ubaidah ibnul Harits, Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabi’ah serta Al-Walid bin Utbah (HR.Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata bahwa RasuluLlah saw. bersabda pada Perang Khaibar:

“Saya sungguh-sungguh akan berikan bendera perang esok hari kepada orang yang dengannya Khaibar akan dibuka dan dia mencintai Allah dan Rasul Nya, sebagaimana Allah dan Rasul Nya mencintainya.”

Malam itu para sahabat ramai membincangkan siapa yang akan mendapat kehormatan untuk mendapatkan bendera perang itu. Tatkala pagi menjelang, para sahabat segera menemui RasuluLlah saw. Semuanya berharap semoga bendera itu diberikan kepadanya. Lalu RasuluLlah saw. berkata: “Di mana ‘Ali?” Orang yang hadir saat itu berkata: “Dia sedang sakit mata.” RasuluLlah saw. bersabda: “Datangkan dia ke sini!” Lalu para sahabat ra. menjemputnya untuk menghadap RasuluLlah saw. ‘Ali ra. datang menemui RasuluLlah saw., dan RasuluLlah saw. menyemburkan ludah kepada kedua matanya dan berdoa. Dan sembuhlah kedua mata ‘Ali seakan-akan dia tidak pernah merasa sakit. Lalu RasuluLlah saw. serahkan bendera itu kepadanya.Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir bahwa Jabir bin ‘AbduLlah berkata: Pada saat perang Khaibar, ‘Ali mampu menjebol pintu Khaibar sendirian, hingga akhirnya kaum muslimin mampu masuk ke dalam benteng dan menaklukkan musuh-musuhnya. Lalu mereka menarik pintunya dan pintu tersebut tidak mampu ditarik kecuali oleh 40 orang.

‘Ali ra. mengikuti semua perang yang diikuti oleh RasuluLlah saw.kecuali Perang Tabuk. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. bahwa RasuluLlah saw. memerintahkan ‘Ali ra. untuk menggantikan beliau saw. sementara di Madinah pada saat kaum muslimin akan menuju Perang Tabuk. ‘Ali ra. saat itu berkata: “Engkau tempatkan aku bersama para wanita dan anak-anak di Madinah?” RasuluLlah saw. bersabda: “Tidakkah engkau rela
menjadi laksana Harun di samping Musa di sisiku? Hanya saja memang tidak ada Nabi setelahku.”

Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. dia berkata: Tatkalahturunkayat:

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa
sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya):
“Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami
dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita
bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada
orang-orangyangdusta”.”
(Q.S.Ali‘Imraan:61)

Beliau saw. memanggil ‘Ali, Fathimah, Hassan , Husein (radhiyaLlahu ‘anhum) lalu berkata:

Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”

Imam Ath-Thabarani dengan isnad shahih meriwayatkan dari Ummu Salamah ra. dari rasuluLlah saw, beliau saw. bersabda:

“Barangsiapa mencintai ‘Ali, maka dia berarti mencintai saya, dan siapa yang mencintai saya, berarti dia mencintai Allah. Barangsiapa membenci Ali, berarti dia membenci saya dan barangsiapa yang membenci saya berarti dia membenci Allah.”

Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata, bahwa RasuluLlah saw. bersabda kepada ‘Ali ra: “Engkau dari aku dan aku dari kamu.” (HR. Bukhari)

Al-Bazzar, Abu Ya’la dan Al-Hakim meriwayatkan dari ‘Ali ra., dia berkata, RasuluLlah saw. memanggil saya lalu berkata:

“Wahai ‘Ali, sesungguhnya dalam dirimu ada sesuatu yang menyerupai ‘Isa, dia dibenci orang Yahudi hingga mereka melecehkan ibunya, dan dicintai oleh orang-orang Nashrani
hingga mereka mendudukkannya pada posisi yang tidak benar. Ketahuilah, sesungguhnya ada dua golongan yang akan hancur karena perlakuan mereka terhadapmu: Golongan yang berlebih-lebihan dalam mencintaimu hingga mereka mendudukannmu pada posisi yang tidak benar, dan golongan yang membencimu dengan keterlaluan hingga mereka melecehkanmu.”

RasuluLlah saw. mengutus Ali ke Yaman. Maka ia (’Ali ra., pen.) berkata: ”Wahai RasuluLlah, engkau utus diriku kepaa suatu kaum yang lebih tua dariku supaya aku putuskan perkara di antara mereka. Nabi saw. berkata:

”Pergilah, karena Allah Ta’ala akan meneguhkan lisanmu dan memberi petunjuk kepada hatimu! (HR. Ahmad)

Al-Hakim meriwayatkan dari ‘AbduLlah bin Mas’ud dia berkata: Kami sama-sama mengatakan bahwa penduduk Madinah yang paling pandai dalam memutuskan perkara adalah Ali (ra.).

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyib dia berkata: ‘Umar bin Khaththab ra. selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan dalam memutuskan perkara sulit jika saat itu ‘Ali ra. tidak hadir.

 

  1. KEKHILAFAHAN ‘ALI RA.

Setelah Utsman ra. syahid,

Ali ra. diangkat menjadi khalifah ke-4. Awalnya beliau ra. menolak, namun akhirnya beliau ra. menerimanya. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Muhammad bin Al-Hanafiyah berkata: …..Sementara orang banyak datang di belakangnya dan menggedor pintu dan segera memasuki rumah itu. Kata mereka: “Beliau (‘Utsman ra.) telah terbunuh, sementara rakyat harus punya khalifah, dan kami tidak mengetahui orang yang paling berhak untuk itu kecuali anda (‘Ali ra.)”. ‘Ali ra. berkata kepada mereka: “Janganlah kalian mengharapkan
saya, karena saya lebih senang menjadi wazir (pembantu) bagi kalian daripada menjadi Amir”. Mereka menjawab: “Tidak, demi Allah, kami tidak mengetahui ada orang yang lebih berhak menjadi khalifah daripada engkau”. ‘Ali ra. menjawab: “Jika kalian tak menerima pendapatku dan tetap ingin membaiatku, maka baiat tersebut hendaknya tidak bersifat rahasia, tetapi aku akan pergi ke masjid, maka siapa yang bermaksud membaiatku maka berbaiatlah kepadaku”. Pergilah ‘Ali ra. ke masjid dan orang-orang berbaiat kepadanya.

Dalam Tarikh Al-Ya’qubi dikatakan: ‘Ali bin Abi Thalib (ra.) menggantikan ‘Utsman sebagai khalifah… dan dia (ra.) dibaiat oleh Thalhah (ra.), Zubair (ra.), Kaum Muhajirin dan Anshar (radhiyaLlahu ‘anhum). Sedangkan orang yang pertama kali membaiat dan menjabat tangannya adalah Thalhah bin ‘Ubaidillah (ra.).

Imam Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzy mentakhrij hadits berasal dari Safinah ra., ia berkata: Aku mendengar RasuluLlah saw. bersaba:
“Kekhilafahan berlangsung selama 30 tahun dan setelah itu adalah kerajaan.” Safinah ra. berkata: “Mari kita hitung, Khilafah Abu Bakar ra. berlangsung 2 tahun, Khilafah ‘Umar ra. 10 tahun, Khilafah ‘Utsman ra. 12 tahun, dan Khilafah ‘Ali ra. 6 tahun.”

’Ali ra. bekerja keras pada masa kekhilafahannya guna mengembalikan stabilitas dalam
tubuh umat setelah sebelumnya Ibnu Saba’ dan Sabaiyahnya melancarkan konspirasi dan provokasinya guna menghancurkan Islam dari dalam. Pada masa kekepemimpinan Ali ra. ini, Ibnu Saba’ dan Sabaiyah nya pun kembali melancarkan konspirasi dan makar mereka, sehingga membuat keadaan menjadi semakin rumit. Diriwayatkan bahwa pada akhirnya ‘Ali ra. membakar banyak dari pengikut Sabaiyah ini dan juga mengasingkan Ibnu Saba’ ke Al-Madain.

  1. 4.      ALI   RA. MEMERANGI KHAWARIJ

Semula orang-orang yang kelak dikenal dengan khawarij ini turut membaiat ‘Ali ra., dan Ali ra. tidak menindak mereka secara langsung mengingat kondisi umat belumlah kembali stabil, di samping para pembuat makar yang berjumlah ribuan itu pun telah berbaur di Kota Madinah, hingga dapat mempengaruhi hamba sahaya dan orang-orang Badui. Jika ‘Ali ra. bersegera
mengambil tindakan, maka bisa dipastikan akan terjadi pertumpahan darah dan fitnah yang tidak kunjung habisnya. Karenanya ‘Ali ra, memilih untuk menunggu waktu yang tepat, setelah kondisi keamanan kembali stabil, untuk menyelesaikan persoalan yang ada dengan menegakkan qishash.

Kaum khawarij sendiri pada akhirnya menyempal dari Pasukan ‘Ali ra. setelah beliau ra. melakukan tahkim dengan Mu’awiyah ra. setelah beberapa saat terjadi perbedaan ijtihad di antara mereka berdua ra. (‘Ali ra. dan Mu’awiyah ra.). Orang-orang khawarij menolak tahkim seraya mengumandangkan slogan: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Tidak boleh menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia. Demi Allah! Allah telah menghukum penzalim dengan jalan diperangi sehingga kembali ke jalan Allah.” Ungkapan mereka: Tiada ada hukum kecuali hukum Allah’, dikomentari oleh Ali: “Ungkapan benar, tetapi isalah pahami. ”

Pada akhirnya ‘Ali ra. memerangi khawarij tsb., dan berhasil menghancurkan mereka di Nahrawan, di mana hampir seluruh dari orang Khawarij tsb berhasil dibunuh, sedangkan yang terbunuh di pihak ‘Ali ra. hanya 9 orang saja.

Bersabda Rasulullah saw.:

“Suatu kelompok akan melepaskan diri dari komunitas umat (yaitu
Khawarij, pen.) ketika terjadi pertikaian di kalangan Kaum Muslimin, yang itu
akan diperangi oleh golongan yang lebih utama dengan kebenaran (awla
ath-thaa-ifataini bilhaq).”
(HR. Muslim)

  1. 5.      SYAHIDNYA ‘ALI RA.

Dari Muhammad bin Sa’d, dari beberapa orang syaiknya, mereka berkata:
“Ada 3 orang pemuka Khawarij (setelah peristiwa Nahrawan, pen.) yaitu AbdurRahman Ibnu Muljam, Al-Barak bin AbduLlah dan Amr bin Bakar At-Tamimy yang berkumpul di Makkah. Mereka berembug dan membuat kesepakatan bersama untuk membunuh tiga orang, yaitu ‘Ali ra., Mu’awiyah ra. dan ‘Amr bin Al-‘Ash ra….” Dari tiga orang tsb, hanya Ibnu Muljam yang berhasil melaksanakan rencana busuk tersebut. ‘Ali ra. terbunuh sebagai syahid saat beliau ra. sedang keluar untuk Shalat Subuh.

‘Ali ra. berkata (mengenai orang yang menyerangnya -yang menyebabkan syahidnya beliau ra.): Beri ia makanan yang baik, dan sediakan untuknya tempat tidur yang empuk. Dan apabila aku masih hidup, maka aku lebih berhak untuk menuntuk balas kepadanya dengan memberikan maaf atau qishash. Akan tetapi jika aku mati, maka susulkan ia kepadaku, dan aku akan berbantahan dengan dirinya di hadapan Rabbul Alamiin.”

Imam Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad shahih meriwayatkan dari Ammar bin Yasir bahwa RasuluLlah saw. bersabda kepada ‘Ali ra.:

“Manusia yang paling celaka adalah dua orang: Pembunuh unta Nabi Shaleh dari Kaum Tsamud dan orang yang memukul kepalamu hingga jenggotmu berlumuran darah
karenanya.”

  1. 6.      BEBERAPA PERKATAAN HIKMAH ‘ALI RA.

Berkata ‘Ali ra.: “Ambillah lima nasehat dariku: Janganlah sekali-kali seseorang takut kecuali atas dosa-dosanya. Janganlah menggantungkan harapan kecuali kepada Tuhannya. Janganlah orang yang tidak berilmu merasa malu untuk belajar. Janganlah seseorang yang tidak mengerti sesuatu merasa malu untuk mengatakan “Allahu A’lam” saat dia tidak bisa menjawab suatu masalah. Sesungguhnya kedudukan sabar bagi iman laksana kedudukan kepala pada jasad. Jika kesabaran hilang, maka akan lenyap pula keimanan, dan jika kepala hilang maka tidak akan ada artinya jasad. (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunannya)

Juga diriwayatkan dari ‘Ali ra., dia berkata:

“Akibat maksiat adalah lemah dalam ibadah, sempit dalam riizki, berkurang lezatnya kehidupan.” Lalu ditanyakan kepadanya, apa yang dia maksud berkurang lezatnya kehidupan. Beliau ra. menjawab: “Tidak merasakan nikmat pada yang halal, namun akhirnya dia mendapatkan yang mengakibatkan habisnya kenikmatan itu.

‘Ali ra., dia berkata: “Dua hal yang paling kutakuti atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Angan-angan yang panjang dapat melalaikan akhirat, sedang mengikuti hawa nafsu dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Ingatlah, sesungguhnya dunia ini akan ditinggalkan dan akan datang penggantinya. Masing-masing, diantara dunia dan akhirat memiliki
anak. Jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini (dunia) ada amal dan tidak ada hisab, sedangkan hari esok (akhirat) ada hisab dan tidak ada lagi amal.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

 

 

 

 

 

 

BAB III.

PENUTUP

  1. Kesimpulan
    1. Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah ia wafat. Mereka ialah Abu Bakar As Shiddiq, Umar Bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
    2. Ali bin Abu Thalib, paman Nabi saw, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim,
      bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin
      Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, ‘Uqail, Ja’far dan Ummu
      Hani.
    3. Ali ra. adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak.Sebagian riwayat mengatakan bahwa saat masuk Islam, beliau ra. baru berumur 10 tahun
    4. Ali adalah salah satu dari 3 orang sahabat ra. yang melakukan perang tanding satu lawan satu melawan 3 tokoh kafir Quraisy saat Perang Badar. Ali ra. berkata: Utbah bin Rabiah (dari Kafir Quraisy, pen.) maju diikuti putra (Al-Walid, pen.) dan saudaranya (Syaibah, pen.)
    5. Ali ra. diangkat menjadi khalifah ke-4. Awalnya beliau ra. menolak, namun akhirnya beliau ra. Menerimanya
    6. Pada akhirnya ‘Ali ra. memerangi khawarij tsb., dan berhasil menghancurkan mereka di Nahrawan, di mana hampir seluruh dari orang Khawarij tsb berhasil dibunuh, sedangkan yang terbunuh di pihak ‘Ali ra. hanya 9 orang saja.
    7. Ada 3 orang pemuka Khawarij (setelah peristiwa Nahrawan, pen.) yaitu AbdurRahman Ibnu Muljam, Al-Barak bin AbduLlah dan Amr bin Bakar At-Tamimy yang berkumpul di Makkah. Mereka berembug dan membuat kesepakatan bersama untuk membunuh tiga orang, yaitu ‘Ali ra., Mu’awiyah ra. dan ‘Amr bin Al-‘Ash ra….” Dari tiga orang tsb, hanya Ibnu Muljam yang berhasil melaksanakan rencana busuk tersebut. ‘Ali ra. terbunuh sebagai syahid saat beliau ra. sedang keluar untuk Shalat Subuh.
    8. Berkata ‘Ali ra.: “Ambillah lima nasehat dariku: Janganlah sekali-kali seseorang takut kecuali atas dosa-dosanya. Janganlah menggantungkan harapan kecuali kepada Tuhannya. Janganlah orang yang tidak berilmu merasa malu untuk belajar. Janganlah seseorang yang tidak mengerti sesuatu merasa malu untuk mengatakan “Allahu A’lam” saat dia tidak bisa menjawab suatu masalah. Sesungguhnya kedudukan sabar bagi iman laksana kedudukan kepala pada jasad. Jika kesabaran hilang, maka akan lenyap pula keimanan, dan jika kepala hilang maka tidak akan ada artinya jasad. (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunannya)

  1. Kritik dan Saran

Dalam makalah ini tentunya masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan untuk penyempurnaan makalah ini. Referensi :
http://dkm-alfurqon.blogspot.com/2008/07/ali-bin-abi-tholib.html

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah Puji syukur kepada Allah S.W.T yang telah memberikan nikmat-nikmatnya, serta memberikan ilmu pengetahuan. Sehingga penulis bisa menyelesaikan sebuah makalah tentang salah satu sahabat rasulullah saw, khulafaur rasyidin yaitu khalifah Ali bin Abi Thalib.

Shalawat dan salam semoga tetap selalu tercurah dan terlimpah kepada seorang manusia biasa yang mempunyai akhlaq yang sangat mulia, yaitu nabi Muhammad saw, kepada keluarga , sahabat, serta pengikutnya yang istiqomah menjalankan sunnah-sunnahnya dari dulu, sekarang, hingga hari pembalasan.Allahumma salli ‘ala Muhammad.

Selesainya makalah ini, tentunya tidak lepas dari bimbingan dosen Bpk. Drs. M. Syafe’i, serta keluarga yang selalu mendukung, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada mereka.

Makalah ini dibuat secara ringkas, namun mudah-mudahan tidak mengurangi sejarah aslinya. Pada kesempatan yang baik ini penulis mengangkat tentang profil Ali bin Abi Thalib, beberapa keutamaan Ali bin Abi Thalib, kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, memerangi khawarij, syahidnya Ali bin Abi Thalib, serta beberapa perkataan hikmah Ali bin Abi Thalib.

Semoga makalah ini memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis khususnya, dan memberikan banyak manfaat kepada pembaca pada umumnya. Sesuai dengan sabda rasulullah saw. “Sebaik-baik diantara manusia sekalian, ialah orang yang memberi manfaat kepada orang lain”.

Banjarmasin, 18 Mei 2012

                                                                                   Penulis,

                                                              Burhannudin

11.31.0122

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar                                                                                                                              i

Daftar Isi                                                                                                                                      ii

BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………….         1

1. Latar Belakang…………………………………………………………………………         1

2. Tujuan……………………………………………………………………………………..         1

BAB II. ISI                                                                                                                                  2

  1. Profil Ali bin Abi Thalib R.A……………………………………………………         2
  2. Keutamaan Ali bin Abi Thalib R.A……………………………………………         3
  3. Kekhilafahan Ali bin Abi Thalib R.A………………………………………..         6
  4. Ali bin Abi Thalib R.A memerangi Khawarij………………………………         7
  5. Syahidnya Ali bin Abi Thalib R.A…………………………………………….         7
  6. Hikmah perkataan Ali bin Abi Thalib R.A………………………………….         8

BAB III. PENUTUP……………………………………………………………………………………………..         9

1. Kesimpulan………………………………………………………………………………         9

2. Kritik dan Saran……………………………………………………………………….         9

                                                                        BAB I.

 PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Secara resmi istilah Khulafaur Rasyidin merujuk pada empat orang khalifah pertama Islam, namun sebagian ulama menganggap bahwa Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang memperoleh petunjuk tidak terbatas pada keempat orang tersebut di atas, tetapi dapat mencakup pula para khalifah setelahnya yang kehidupannya benar-benar sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi. Salah seorang yang oleh kesepakatan banyak ulama dapat diberi gelar khulafaur rasyidin adalah Umar bin Abdul-Aziz, khalifah Bani Umayyah ke-8

Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah ia wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam

Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung. Namun penganut paham Syi’ah meyakini bahwa Muhammad dengan jelas menunjuk Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad menginginkan keturunannyalah yang akan meneruskan kepemimpinannya atas umat Islam, mereka merujuk kepada salah satu Hadits Ghadir Khum.

Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali menon-aktifkan para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsmankepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.

  1. Tujuan

Adapun tujuan penulis membuat makalah tentang kekhilafahan Ali bin Abi Thalib

antara lain :

  1. Mengetahui profil Ali bin Abi Thalib, beberapa keutamaan Ali bin Abi Thalib, kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, memerangi khawarij, syahidnya Ali bin Abi Thalib, serta beberapa perkataan hikmah Ali bin Abi Thalib.
  2. Semoga menambah ilmu pengetahuan dan memberikan banyak manfaat kepada pembaca.

 

BAB II.

ISI

 

  1. 1.      Profil Ali Bin Abu Thalib

Ayahnya adalah: Abu Thalib, paman Nabi saw, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim,
bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin
Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, ‘Uqail, Ja’far dan Ummu
Hani.

Dengan demikian, jelaslah, Ali adalah berdarah Hasyimi dari kedua
ibu-bapaknya. Keluarga Hasyim memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat
Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang
mulia, penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat. Ibunya adalah
Fathimah binti Asad, yang kemudian menamakannya Haidarah. Haidarah adalah salah
satu nama singa, sesuai dengan nama ayahnya: Asad (singa). Fathimah adalah salah
seorang wanita yang terdahulu beriman dengan Risalah Nabi Muhammad Saw. Dia
pula-lah yang telah mendidik Nabi Saw, dan menanggung hidupnya, setelah
meninggalnya bapak-ibu beliau, Abdullah dan Aminah. Beliau kemudian membalas
jasanya, dengan menanggung kehidupan Ali, untuk meringankan beban pamannya, Abu
Thalib, pada saat mengalami kesulitan ekonomi. Saat Fathimah meninggal dunia,
Rasulullah Saw yang mulai mengkafaninya dengan baju qamisnya, meletakkannya
dalam kuburnya, dan menangisinya, sebagai tangisan seorang anak atas ibunya. Dan
bersabda:

“Semoga Allah SWT memberikan balasan yang baik bagi ibu asuhku ini. Engkau
adalah orang yang paling baik kepadaku, setelah pamanku dan almarhumah ibuku.
Dan semoga Allah SWT meridhai-mu.”

Dan karena penghormatan beliau kepadanya, maka beliau menamakan anaknya yang
tersayang dengan namanya: Fathimah. Darinyalah kemudian mengalir nasab beliau
yang mulia, yaitu anak-anaknya: Hasan, Husein, Zainab al Kubra dan Ummu
Kultsum.

Haidarah adalah nama Imam Ali yang dipilihkan oleh ibunya. Namun ayahnya
menamakannya dengan Ali, sehingga dia terkenal dengan dua nama tersebut,
meskipun nama Ali kemudian lebih terkenal.

Anak-anaknya adalah: Hasan, Husein, Zainab, Ummu Kultsum, dari Fathimah binti
Rasulullah Saw. Seorang isteri yang tidak pernah diperlakukan buruk oleh Ali
r.a. selama hidupnya. Bahkan Ali tetap selalu mengingatnya setelah kematiannya.
Ia juga mempunyai beberapa orang anak dari isteri-isterinya yang lain, yang ia
kawini setelah wafatnya Fathimah r.a. Baik isteri dari kalangan wanita merdeka
maupun hamba sahaya. Yaitu: Muhsin, Muhammad al Akbar, Abdullah al Akbar, Abu
Bakar, Abbas, Utsman, Ja’far, Abdullah al Ashgar, Muhammad al Ashghar, Yahya,
Aun, Umar, Muhammad al Awsath, Ummu Hani, Maimunah, Rahmlah ash Shugra, Zainab
ash Shugra, Ummu Kaltsum ash Shugra, Fathimah, Umamah, Khadijah, Ummu al Karam,
Ummu Salmah, Ummu Ja’far, Jumanah, dan Taqiyyah.

.Ali ra. sendiri termasuk salah seorang dari 10 sahabat ra.yang dijamin masuk surga.

 

  1. 2.      BEBERAPA KEUTAMAAN ‘ALI  RA.

Ali ra. adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak. Sebagian riwayat mengatakan bahwa saat masuk Islam, beliau ra. baru berumur 10 tahun. Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad bahwa Al-Hassan bin Zaid bin Al-Hassan berkata: Ali tidak pernah menyembah berhala sama sekali karena dia memang masih kecil.Saat hijrah RasuluLlah saw, Ali ra. dengan penuh keberanian, tidur di atas tempat tidur RasuluLlah saw. sehingga para pengepung mengira RasuluLlah saw. masih di dalam rumah, sedang beliau saw. telah meninggalkan rumah tsb.

‘Ali adalah salah satu dari 3 orang sahabat ra. yang melakukan perang tanding satu lawan satu melawan 3 tokoh kafir Quraisy saat Perang Badar. Ali ra. berkata: Utbah bin Rabiah (dari Kafir Quraisy, pen.) maju diikuti putra (Al-Walid, pen.) dan saudaranya (Syaibah, pen.). Ia berseru: ‘Siapa mau bertarung?’ Kemudian ditampilkan kepadanya seorang pemuda Anshar. Ia bertanya:Siapa kamu?Maka mereka mengabarinya.Utbah berkata:Kami tidak membutuhkan
kamu, tetapi kami inginkan putera-putera paman kami.Kemudian RasuluLlah saw.
bersabda:Berdirilah, hai Hamzah!Majulah, hai’Ali! Majulah hai Ubaidah
bin Harits!
Kemudian Hamzah ra. menghadapi ’Utbah (dan berhasil membunuhnya, pen.) dan aku menghadapi Syaibah (dan membunuhnya, pen.). Ubaidah dan Al-Walid saling menyerang. Masing-masing saling melukai lawannya. Kemudian kami menyerang Al-Walid dan membunuhnyagdanhkamijbawa’Ubaidah.(HR.AbuhDaud)
Abu Dzar ra. bersumpah, kalau ayat:

“Inilah dua golongan
(golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar
mengenai Tuhan mereka…“
(Q. S. Al-Hajj : 19)

Turun mengenai orang-orang yang bertarung dalam Perang Badar; Hamzah, Ali, Ubaidah ibnul Harits, Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabi’ah serta Al-Walid bin Utbah (HR.Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata bahwa RasuluLlah saw. bersabda pada Perang Khaibar:

“Saya sungguh-sungguh akan berikan bendera perang esok hari kepada orang yang dengannya Khaibar akan dibuka dan dia mencintai Allah dan Rasul Nya, sebagaimana Allah dan Rasul Nya mencintainya.”

Malam itu para sahabat ramai membincangkan siapa yang akan mendapat kehormatan untuk mendapatkan bendera perang itu. Tatkala pagi menjelang, para sahabat segera menemui RasuluLlah saw. Semuanya berharap semoga bendera itu diberikan kepadanya. Lalu RasuluLlah saw. berkata: “Di mana ‘Ali?” Orang yang hadir saat itu berkata: “Dia sedang sakit mata.” RasuluLlah saw. bersabda: “Datangkan dia ke sini!” Lalu para sahabat ra. menjemputnya untuk menghadap RasuluLlah saw. ‘Ali ra. datang menemui RasuluLlah saw., dan RasuluLlah saw. menyemburkan ludah kepada kedua matanya dan berdoa. Dan sembuhlah kedua mata ‘Ali seakan-akan dia tidak pernah merasa sakit. Lalu RasuluLlah saw. serahkan bendera itu kepadanya.Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir bahwa Jabir bin ‘AbduLlah berkata: Pada saat perang Khaibar, ‘Ali mampu menjebol pintu Khaibar sendirian, hingga akhirnya kaum muslimin mampu masuk ke dalam benteng dan menaklukkan musuh-musuhnya. Lalu mereka menarik pintunya dan pintu tersebut tidak mampu ditarik kecuali oleh 40 orang.

‘Ali ra. mengikuti semua perang yang diikuti oleh RasuluLlah saw.kecuali Perang Tabuk. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. bahwa RasuluLlah saw. memerintahkan ‘Ali ra. untuk menggantikan beliau saw. sementara di Madinah pada saat kaum muslimin akan menuju Perang Tabuk. ‘Ali ra. saat itu berkata: “Engkau tempatkan aku bersama para wanita dan anak-anak di Madinah?” RasuluLlah saw. bersabda: “Tidakkah engkau rela
menjadi laksana Harun di samping Musa di sisiku? Hanya saja memang tidak ada Nabi setelahku.”

Imam Muslim dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. dia berkata: Tatkalahturunkayat:

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa
sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya):
“Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami
dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita
bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada
orang-orangyangdusta”.”
(Q.S.Ali‘Imraan:61)

Beliau saw. memanggil ‘Ali, Fathimah, Hassan , Husein (radhiyaLlahu ‘anhum) lalu berkata:

Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”

Imam Ath-Thabarani dengan isnad shahih meriwayatkan dari Ummu Salamah ra. dari rasuluLlah saw, beliau saw. bersabda:

“Barangsiapa mencintai ‘Ali, maka dia berarti mencintai saya, dan siapa yang mencintai saya, berarti dia mencintai Allah. Barangsiapa membenci Ali, berarti dia membenci saya dan barangsiapa yang membenci saya berarti dia membenci Allah.”

Al-Bara’ bin ‘Azib ra. berkata, bahwa RasuluLlah saw. bersabda kepada ‘Ali ra: “Engkau dari aku dan aku dari kamu.” (HR. Bukhari)

Al-Bazzar, Abu Ya’la dan Al-Hakim meriwayatkan dari ‘Ali ra., dia berkata, RasuluLlah saw. memanggil saya lalu berkata:

“Wahai ‘Ali, sesungguhnya dalam dirimu ada sesuatu yang menyerupai ‘Isa, dia dibenci orang Yahudi hingga mereka melecehkan ibunya, dan dicintai oleh orang-orang Nashrani
hingga mereka mendudukkannya pada posisi yang tidak benar. Ketahuilah, sesungguhnya ada dua golongan yang akan hancur karena perlakuan mereka terhadapmu: Golongan yang berlebih-lebihan dalam mencintaimu hingga mereka mendudukannmu pada posisi yang tidak benar, dan golongan yang membencimu dengan keterlaluan hingga mereka melecehkanmu.”

RasuluLlah saw. mengutus Ali ke Yaman. Maka ia (’Ali ra., pen.) berkata: ”Wahai RasuluLlah, engkau utus diriku kepaa suatu kaum yang lebih tua dariku supaya aku putuskan perkara di antara mereka. Nabi saw. berkata:

”Pergilah, karena Allah Ta’ala akan meneguhkan lisanmu dan memberi petunjuk kepada hatimu! (HR. Ahmad)

Al-Hakim meriwayatkan dari ‘AbduLlah bin Mas’ud dia berkata: Kami sama-sama mengatakan bahwa penduduk Madinah yang paling pandai dalam memutuskan perkara adalah Ali (ra.).

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Sa’id bin Musayyib dia berkata: ‘Umar bin Khaththab ra. selalu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan dalam memutuskan perkara sulit jika saat itu ‘Ali ra. tidak hadir.

  1. KEKHILAFAHAN ‘ALI RA.

Setelah Utsman ra. syahid,

Ali ra. diangkat menjadi khalifah ke-4. Awalnya beliau ra. menolak, namun akhirnya beliau ra. menerimanya. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Muhammad bin Al-Hanafiyah berkata: …..Sementara orang banyak datang di belakangnya dan menggedor pintu dan segera memasuki rumah itu. Kata mereka: “Beliau (‘Utsman ra.) telah terbunuh, sementara rakyat harus punya khalifah, dan kami tidak mengetahui orang yang paling berhak untuk itu kecuali anda (‘Ali ra.)”. ‘Ali ra. berkata kepada mereka: “Janganlah kalian mengharapkan
saya, karena saya lebih senang menjadi wazir (pembantu) bagi kalian daripada menjadi Amir”. Mereka menjawab: “Tidak, demi Allah, kami tidak mengetahui ada orang yang lebih berhak menjadi khalifah daripada engkau”. ‘Ali ra. menjawab: “Jika kalian tak menerima pendapatku dan tetap ingin membaiatku, maka baiat tersebut hendaknya tidak bersifat rahasia, tetapi aku akan pergi ke masjid, maka siapa yang bermaksud membaiatku maka berbaiatlah kepadaku”. Pergilah ‘Ali ra. ke masjid dan orang-orang berbaiat kepadanya.

Dalam Tarikh Al-Ya’qubi dikatakan: ‘Ali bin Abi Thalib (ra.) menggantikan ‘Utsman sebagai khalifah… dan dia (ra.) dibaiat oleh Thalhah (ra.), Zubair (ra.), Kaum Muhajirin dan Anshar (radhiyaLlahu ‘anhum). Sedangkan orang yang pertama kali membaiat dan menjabat tangannya adalah Thalhah bin ‘Ubaidillah (ra.).

Imam Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzy mentakhrij hadits berasal dari Safinah ra., ia berkata: Aku mendengar RasuluLlah saw. bersaba:
“Kekhilafahan berlangsung selama 30 tahun dan setelah itu adalah kerajaan.” Safinah ra. berkata: “Mari kita hitung, Khilafah Abu Bakar ra. berlangsung 2 tahun, Khilafah ‘Umar ra. 10 tahun, Khilafah ‘Utsman ra. 12 tahun, dan Khilafah ‘Ali ra. 6 tahun.”

’Ali ra. bekerja keras pada masa kekhilafahannya guna mengembalikan stabilitas dalam
tubuh umat setelah sebelumnya Ibnu Saba’ dan Sabaiyahnya melancarkan konspirasi dan provokasinya guna menghancurkan Islam dari dalam. Pada masa kekepemimpinan Ali ra. ini, Ibnu Saba’ dan Sabaiyah nya pun kembali melancarkan konspirasi dan makar mereka, sehingga membuat keadaan menjadi semakin rumit. Diriwayatkan bahwa pada akhirnya ‘Ali ra. membakar banyak dari pengikut Sabaiyah ini dan juga mengasingkan Ibnu Saba’ ke Al-Madain.

  1. 4.      ALI   RA. MEMERANGI KHAWARIJ

Semula orang-orang yang kelak dikenal dengan khawarij ini turut membaiat ‘Ali ra., dan Ali ra. tidak menindak mereka secara langsung mengingat kondisi umat belumlah kembali stabil, di samping para pembuat makar yang berjumlah ribuan itu pun telah berbaur di Kota Madinah, hingga dapat mempengaruhi hamba sahaya dan orang-orang Badui. Jika ‘Ali ra. bersegera
mengambil tindakan, maka bisa dipastikan akan terjadi pertumpahan darah dan fitnah yang tidak kunjung habisnya. Karenanya ‘Ali ra, memilih untuk menunggu waktu yang tepat, setelah kondisi keamanan kembali stabil, untuk menyelesaikan persoalan yang ada dengan menegakkan qishash.

Kaum khawarij sendiri pada akhirnya menyempal dari Pasukan ‘Ali ra. setelah beliau ra. melakukan tahkim dengan Mu’awiyah ra. setelah beberapa saat terjadi perbedaan ijtihad di antara mereka berdua ra. (‘Ali ra. dan Mu’awiyah ra.). Orang-orang khawarij menolak tahkim seraya mengumandangkan slogan: “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Tidak boleh menggantikan hukum Allah dengan hukum manusia. Demi Allah! Allah telah menghukum penzalim dengan jalan diperangi sehingga kembali ke jalan Allah.” Ungkapan mereka: Tiada ada hukum kecuali hukum Allah’, dikomentari oleh Ali: “Ungkapan benar, tetapi isalah pahami. ”

Pada akhirnya ‘Ali ra. memerangi khawarij tsb., dan berhasil menghancurkan mereka di Nahrawan, di mana hampir seluruh dari orang Khawarij tsb berhasil dibunuh, sedangkan yang terbunuh di pihak ‘Ali ra. hanya 9 orang saja.

Bersabda Rasulullah saw.:

“Suatu kelompok akan melepaskan diri dari komunitas umat (yaitu
Khawarij, pen.) ketika terjadi pertikaian di kalangan Kaum Muslimin, yang itu
akan diperangi oleh golongan yang lebih utama dengan kebenaran (awla
ath-thaa-ifataini bilhaq).”
(HR. Muslim)

  1. 5.      SYAHIDNYA ‘ALI RA.

Dari Muhammad bin Sa’d, dari beberapa orang syaiknya, mereka berkata:
“Ada 3 orang pemuka Khawarij (setelah peristiwa Nahrawan, pen.) yaitu AbdurRahman Ibnu Muljam, Al-Barak bin AbduLlah dan Amr bin Bakar At-Tamimy yang berkumpul di Makkah. Mereka berembug dan membuat kesepakatan bersama untuk membunuh tiga orang, yaitu ‘Ali ra., Mu’awiyah ra. dan ‘Amr bin Al-‘Ash ra….” Dari tiga orang tsb, hanya Ibnu Muljam yang berhasil melaksanakan rencana busuk tersebut. ‘Ali ra. terbunuh sebagai syahid saat beliau ra. sedang keluar untuk Shalat Subuh.

‘Ali ra. berkata (mengenai orang yang menyerangnya -yang menyebabkan syahidnya beliau ra.): Beri ia makanan yang baik, dan sediakan untuknya tempat tidur yang empuk. Dan apabila aku masih hidup, maka aku lebih berhak untuk menuntuk balas kepadanya dengan memberikan maaf atau qishash. Akan tetapi jika aku mati, maka susulkan ia kepadaku, dan aku akan berbantahan dengan dirinya di hadapan Rabbul Alamiin.”

Imam Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad shahih meriwayatkan dari Ammar bin Yasir bahwa RasuluLlah saw. bersabda kepada ‘Ali ra.:

“Manusia yang paling celaka adalah dua orang: Pembunuh unta Nabi Shaleh dari Kaum Tsamud dan orang yang memukul kepalamu hingga jenggotmu berlumuran darah
karenanya.”

  1. 6.      BEBERAPA PERKATAAN HIKMAH ‘ALI RA.

Berkata ‘Ali ra.: “Ambillah lima nasehat dariku: Janganlah sekali-kali seseorang takut kecuali atas dosa-dosanya. Janganlah menggantungkan harapan kecuali kepada Tuhannya. Janganlah orang yang tidak berilmu merasa malu untuk belajar. Janganlah seseorang yang tidak mengerti sesuatu merasa malu untuk mengatakan “Allahu A’lam” saat dia tidak bisa menjawab suatu masalah. Sesungguhnya kedudukan sabar bagi iman laksana kedudukan kepala pada jasad. Jika kesabaran hilang, maka akan lenyap pula keimanan, dan jika kepala hilang maka tidak akan ada artinya jasad. (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunannya)

Juga diriwayatkan dari ‘Ali ra., dia berkata:

“Akibat maksiat adalah lemah dalam ibadah, sempit dalam riizki, berkurang lezatnya kehidupan.” Lalu ditanyakan kepadanya, apa yang dia maksud berkurang lezatnya kehidupan. Beliau ra. menjawab: “Tidak merasakan nikmat pada yang halal, namun akhirnya dia mendapatkan yang mengakibatkan habisnya kenikmatan itu.

‘Ali ra., dia berkata: “Dua hal yang paling kutakuti atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Angan-angan yang panjang dapat melalaikan akhirat, sedang mengikuti hawa nafsu dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Ingatlah, sesungguhnya dunia ini akan ditinggalkan dan akan datang penggantinya. Masing-masing, diantara dunia dan akhirat memiliki
anak. Jadilah kalian anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia, karena hari ini (dunia) ada amal dan tidak ada hisab, sedangkan hari esok (akhirat) ada hisab dan tidak ada lagi amal.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

 

BAB III.

PENUTUP

  1. Kesimpulan
    1. Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah ia wafat. Mereka ialah Abu Bakar As Shiddiq, Umar Bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
    2. Ali bin Abu Thalib, paman Nabi saw, bin Abdul Muththalib, bin Hasyim,
      bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Ibunya adalah: Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin
      Abdi Manaf. Saudara-saudara kandungnya adalah: Thalib, ‘Uqail, Ja’far dan Ummu
      Hani.
    3. Ali ra. adalah orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan anak-anak.Sebagian riwayat mengatakan bahwa saat masuk Islam, beliau ra. baru berumur 10 tahun
    4. Ali adalah salah satu dari 3 orang sahabat ra. yang melakukan perang tanding satu lawan satu melawan 3 tokoh kafir Quraisy saat Perang Badar. Ali ra. berkata: Utbah bin Rabiah (dari Kafir Quraisy, pen.) maju diikuti putra (Al-Walid, pen.) dan saudaranya (Syaibah, pen.)
    5. Ali ra. diangkat menjadi khalifah ke-4. Awalnya beliau ra. menolak, namun akhirnya beliau ra. Menerimanya
    6. Pada akhirnya ‘Ali ra. memerangi khawarij tsb., dan berhasil menghancurkan mereka di Nahrawan, di mana hampir seluruh dari orang Khawarij tsb berhasil dibunuh, sedangkan yang terbunuh di pihak ‘Ali ra. hanya 9 orang saja.
    7. Ada 3 orang pemuka Khawarij (setelah peristiwa Nahrawan, pen.) yaitu AbdurRahman Ibnu Muljam, Al-Barak bin AbduLlah dan Amr bin Bakar At-Tamimy yang berkumpul di Makkah. Mereka berembug dan membuat kesepakatan bersama untuk membunuh tiga orang, yaitu ‘Ali ra., Mu’awiyah ra. dan ‘Amr bin Al-‘Ash ra….” Dari tiga orang tsb, hanya Ibnu Muljam yang berhasil melaksanakan rencana busuk tersebut. ‘Ali ra. terbunuh sebagai syahid saat beliau ra. sedang keluar untuk Shalat Subuh.
    8. Berkata ‘Ali ra.: “Ambillah lima nasehat dariku: Janganlah sekali-kali seseorang takut kecuali atas dosa-dosanya. Janganlah menggantungkan harapan kecuali kepada Tuhannya. Janganlah orang yang tidak berilmu merasa malu untuk belajar. Janganlah seseorang yang tidak mengerti sesuatu merasa malu untuk mengatakan “Allahu A’lam” saat dia tidak bisa menjawab suatu masalah. Sesungguhnya kedudukan sabar bagi iman laksana kedudukan kepala pada jasad. Jika kesabaran hilang, maka akan lenyap pula keimanan, dan jika kepala hilang maka tidak akan ada artinya jasad. (Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunannya)
  1. Kritik dan Saran

Dalam makalah ini tentunya masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan untuk penyempurnaan makalah ini. Referensi :
http://dkm-alfurqon.blogspot.com/2008/07/ali-bin-abi-tholib.html


2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s